Selamat datang di ruang sinetron terpelik

Selamat datang di ruang sinetron terpelik

Membuai-buai kebenaran tanpa pertentangan dan tantangan adalah kebisuan yang terkubur dalam pori-pori kepala.

Menendang pantat lawan dan menjilati pantat kawan adalah kesia-siaan moral yang immortal!

Terus sana berkerumul dalam ruang penuh asap yang menciderai isi kepalamu sendiri.

Saya sapa sosok penuh arogansi yang bertingkah senga dengan kebenarannya sendiri. Dibagi hanya bagi yang tidak tahu. Direndahkan porsi senganya ketika dihadapkan pada yang lebih tahu. Dibubuhi kehebatan gerak mulut dengan tipu daya irasional bagi yang tidak sepaham.

Menyapa untuk membentur kepala saya sendiri untuk tetap membelalak atas pola tingkah yang pantas untuk diberikan sehembus kentut

Maha tahu. Maha benar. Maha cerdas sekaligus bisa menghempas dirinya menjadi tidak tahu apa-apa. Inisiasi dari alasan belajar bersama. Demi kesempurnaan peran. Semoga waktu menjauhkan saya dari kehebatan macam ini dan orang-orang dengan kehebatan serba maha ini.

Dewa baru itu bernama kritis

Dewa baru itu bernama kritis

Getir gemuruh petir.
Melahirkan dewa baru bernama kritis.
Tak pernah jelas panahnya, kritis itu diluncurkan dari mana.
Tapi mari kita sambutlah dewa baru.
Yang belum pernah menapaki tanah itu.

Suara menjadi tenaganya.
Aksi menjadi bentuk pikirannya.
Ia hebat, ia menciptakan aji-ajian bagi isi kepala kita untuk berpikir lebih jauh dan mengagungkan rasa ingin tahu yang bergandeng erat dengan kepekaan. Ia berpijak disini, ditanah bersama kepala-kepala menawan yang tulus

Tapi mulut pemujanya, yang dahulu menjadi arus pikir tanpa henti, tanpa mengada-ada, tanpa kata popularitas dan sindiran heroik. Sungguh hebat.
Saya berdiri dan melemparkan tepukan tangan paling tulus dari kepulan darah ini.

Kini, mungkin memang hanya disini. Panas! Mulut-mulut itu beringas. Mendidih. Hingga menjadi uap yang hakikatnya akan segera menguap. Dan saya pun menguap lebar saat harus terduduk merasakan denyutan semu yang membubuhi kritis menjadi kritik dengan kesombongan. Menjadikan sang dewa begitu loyo!

Tetap diangungkan tentu saja. Tapi hanya muslihat yang terasa. Ajang cerdik pelik seperti arena tinju tanpa pendukung. Hanya pembenci. Penuh kebencian pada siapapun yang tak berseragam bersama omongan dan kepala para pemuja itu.

Kritik yang Kritis. Dulu kamu sungguh menawan wahai dewa yang mulai usang. Dulu kamu menjadikan lawan sebagai tandingan epistemologi atas dasar ontologi dengan kenyataan aksiologi. Kini hanya saut menyaut layaknya agama tanpa keyakinan.

Tuli dan kebutaan berlumur alasan peka dan intektualitas. Bangkit kembali wahai dewa, atau sebaiknya aku berharap dewa kebijaksanaan datang kembali? Atau dewa pertanggung jawaban yang mesti menjawab semua muslihat?
Atau akankah mereka datang bersama? Untuk memapah kawannya?

Lazing On A Sunday Afternoon…

Lazing On A Sunday Afternoon…

Difoto dan diedit oleh Zulfikar Arief

Buaian Bulan

Buaian Bulan

Bisa saja matahari sedang mengelabui bumi dengan meminta bulan menyamar jadi dirinya yang menaungi siang..

Ia hanya lelah, bulan tidak tega..
Ia sedang penat, bulan hanya membantu..
Ia sedang tidak menyala, bulan sekuat tenaga berusaha mengukus semua sinaran yang ia kandung..

Maka malam jadi semakin gelap.
Bulan bekerja dua kali.
Tak banyak cercahan sinar tersisa untuk malam ini, ia tak lelah hanya hampir kehabisan daya.

Daya ini datang dari siapapun yang mensyukuri keberadaanya yang cuma-cuma.. Tanpa ongkos kirim atau biaya pasang iklan atau tagihan rekening. Ia ikhlas dan nol, hingga sekuatnya berkontribusi pada mereka yang menyerap energinya untuk terlelap damai atau untuk mereka yang kehilangan arah di jelujur jalan setapak..

Bulan, aku bahagia dalam keintiman kasih tanpa pamrih ini. Tetap bersinar, lindungi kehidupan kedua ku dalam dekap mimpi yang kaya imajinasi. Selamat menikmati waktumu, besok petang kita jumpa lagi

Berharap kebaikan bagi yang tidak baik

Berharap kebaikan bagi yang tidak baik

Semoga banyak senyuman murni bagi hati yang terlampau tinggi

Semoga banyak doa bagi kaki yang tertawa ketika menginjak hati tanpa kuasa

Semoga banyak cinta bagi wajah yang tak berhenti menengadah, haram melihat bawah

Semoga banyak pertolongan bagi tangan yang baru saja menusuk jantung kerabat

Semoga banyak cahaya bagi keangkuhan pikir yang seolah tak pernah salah

Semoga banyak berkah bagi mereka yang tak mau berbagi

Semoga kebaikan senantiasa meliputi kehidupan individu yang bersahabat karib dengan kesemuan

Tuh(k)an

Tuh(k)an

seringkali harapan datang dipagi hari, maka saya seringkali menyanggupi ibadah subuh..

ketika malam datang, hanya musik dengan irama memelas dengan lamunan cemas yang datang.

saat membayangkan apa yang datang ketika tubuh sedang dilumat oleh tanah, hanya ada kekecewaan.

Matahari yang membius hingga bisu. membuat tubuh terasa panas. pedih. Tuhan memberi kehidupan tapi juga pelajaran. yang mana saya tak pernah mampu untuk tolak.

Tuhan mau mendengar penolakan, ia mendengar, mungkin ia sambil menyanyi… hanya menjadi sayup penolakan itu.. saya menolak ia yang terus membuat variabel dalam hidup.

Tuhan yang disembah jutaan umat, ia tidak mati selama produksi umat tidak berhenti, ia bukan ilusi ia mesin produksi umat. Mungkin indah untuk disembah, hingga umatnya mulai gila penyembahan dan membangun keniscayaan baru.

lautan ingin menceritakan soal kebesaran dan kekuatan sekaligus rendah hati awan marah ketika manusia lupa akan kesederhanaan, ia meninggi terus, seolah ingin menyaingi kedudukannya, ia membangun bangunnan yang mencakar wajahnya dan tinggal didalamnya bertetangga dengan awan

Hutan terbakar. keindahannya ikut hancur, kurasa ia perih merintih.. tapi ia rendah hati tak angkuh dan sombong untuk menolak kuasa, ia meninggalkan keduniaan dengan ikhlas

Kebebasan adalah lepas dari keduniaan dengan kepadatan hati dan pikiran yang mencukupi bekal untuk nantinya berkumpul dengan makhluk semesta lainnya

Menjemput kemandirian

Menjemput kemandirian

Andai aku bisa terus merengek, seperti ketika masih kecil.. Saat meminta dua gulali. Dengan sigap ibu membelikan dan memberikannya ke jemari-jari kecilku.

Andai aku bisa berkeras hati dan tidak mau tahu, seperti ketika masih kecil.. Saat meminta sepatu baru dengan lampu menyala ketika melangkah. Dengan gagah ayah membelikan dan memakaikannya pada kaki-kaki kecilku

Proses yang terus berproses. Tanpa ampunan. Tanpa kemungkinan untuk menyerah. Tanpa jeda. Tanpa belas kasih!

Apa aku mampu berdiri dan berjalan di atas kaki-kakiku yang sudah berusia 23 tahun?
Berkelana dalam kisah yang tidak instan.

Permainan waktu

Permainan waktu

Waktu yg membawa dan kini waktu yang meminta kembali..

Semoga langkah yang terbiasa di papah, kembali bisa menghentak. Mampu mengerlingkan keceriaan pada tiap pijakan yang dihantam.

Bila memang petualangan tak akan berakhir. Entah berganti baru. Entah terpatri sebagai satu kisah yang berawal dan berakhir dibulan desember
Semoga kelak apapun menjadi lebih sederhana. Murni dan tak banyak tanda seru.

Walau waktu betul-betul mempermainkanku. Bergerak sangat lambat tak seperti detak desember ke desember itu. Ikut menyayat kegetiran dan menyuntikan kenyerian luar biasa. Tp aku hanya perlu bertahan.

Selamat dini hari duniaku. Lama tidak menyapa! Mari berputar beriringan!

Liukan liku

Liukan liku

Sudah lama aku tidak meliukkan kata demi kata dalam notasi tangga nada.
Sudah berselang dua minggu, sejak terakhir aku menebus pemikiran dengan plot-plot kalimat..
Inikah kebebasan yang pernah kurindukan.
Saat sore menyapa dan aku hanya berkata “saya rindu pulang”
Saat malam membius hari.. Aku hanya ingin “rumah”
Kini aku terdekap oleh rumah tanpa mesti harus pulang..
Tanpa persaingan ketepatan dan kecepatan di jalan..
Apa sudah diraih kebebasan dari tata tertib dan kompleksitas etika?
23 menit sejak kata berpisah. Bukan lagi riuh semangat pembebasan tapi beban “apa selanjutnya” yang lebih ramai menghantui isi kepala..

Manusia. Hidup. Belenggu. Pembebasan.
Tertib sekali ritmenya dalam keterbatasan dan pembalikan.
Sudahlah. Gundah gelisah tak akan habis bila tak diisi dengan yang lain. Mari kembali berkelana. Nikmati tikaman kata lainnya.

Selamat malam

Awal yang berakhir

Awal yang berakhir

Pernah kudengar kata soal hempasan runtuhnya keduniaan..
Saat mentari hilang rotasi
Dan memunculkan diri dengan penuh sesal dari barat ke timur.

Apa kita sudah akan sampai?
Tanda tak pernah berhenti. Kurasa sudah sejak berabad lalu.
Tapi malam di jalan pulang ini. Aku lebih merasa seperti jalan pulang ke gerbang imajinasi.
Sejak letupan kembang api terakhir itu, siang tak pernah membakar. Malam tak pernah pekat.

Ketika siang redup oleh gemericik air dan perdebatan awan dengan langit.
Ketika malam menyala oleh sayatan Guntur dan bulan yang belum kulihat lagi menyapa.

Mungkin memang sudah dekat
Sesaat waktu akan tiba
Aku gentar. Aku merasa kecil.
Tapi kuharap bukan sikap menyerah yang aku dekap.